
KALSELPOPULAR.ID, Banjarmasin, 6 September 2025 – Suasana kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari kembali dipenuhi dengan gema perjuangan.
Dalam momentum September Hitam, mahasiswa Antasari tidak hanya mengenang peristiwa kelam dalam sejarah bangsa, tetapi juga menegaskan kembali komitmen mereka untuk tetap berdiri bersama rakyat.
September selalu menjadi bulan refleksi, ketika luka dan darah masa lalu mengajarkan arti keberanian serta pentingnya persatuan. Dari tragedi-tragedi kemanusiaan yang tak boleh dilupakan, mahasiswa UIN Antasari menjadikan momen ini sebagai bahan bakar perjuangan.
September Hitam adalah pengingat bahwa suara rakyat tidak boleh dibungkam dan keadilan tidak boleh ditunda juga mahasiswa selalu hadir sebagai garda terdepan perjuangan bangsa.

Yazid Arifani Presiden Mahasiswa menyampaikan bahwa momentum ini sekaligus menjadi wujud nyata Sinergi Antasari, di mana mahasiswa dari semua fakultas, organisasi, dan latar belakang bersepakat merapatkan barisan. Sinergi ini menandakan bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan untuk melawan penindasan dan menjaga demokrasi.
Dengan membawa semangat Pangeran Antasari yang tak pernah tunduk pada penindasan, mahasiswa UIN Antasari menyerukan agar peringatan September Hitam tidak hanya sebatas ritual tahunan, melainkan dijadikan sumbu perlawanan untuk terus mengawal jalannya negara.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Perempuan Yang Berjuang!
Opini: Dari LKK untuk KOHATI: Menempa Diri, Menginspirasi Negeri

Nama: Rahmaniyah
Cabang: Banjarmasin
Bagi seorang mahasiswi yang memilih jalan aktivisme di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Korps HMI-Wati (KOHATI) bukanlah sekadar lembaga semi-otonom. Ia adalah rumah, ruang dialektika, dan kawah candradimuka. Namun, potensi KOHATI sebagai sebuah organisasi yang benar-benar berguna dan menginspirasi sering kali baru terasa maksimal ketika seorang kader telah melewati gerbang transformatif yang disebut Latihan Khusus Kohati (LKK).
Momen inilah yang sering menjadi titik balik, mengubah seorang anggota biasa menjadi kader pejuang yang sadar akan peran dan tanggung jawabnya.
LKK bukanlah sekadar jenjang kaderisasi formal yang menambah deretan sertifikat. Ia adalah proses dekonstruksi dan rekonstruksi pemikiran secara radikal. Di sinilah para kader HMI-wati ditempa dengan berbagai materi mendalam, mulai dari analisis gender, feminisme dalam perspektif keislaman dan keindonesiaan, kepemimpinan perempuan, hingga strategi advokasi kebijakan. Proses ini sering kali melelahkan, menguras energi dan emosi, namun hasil yang didapatkannya begitu fundamental.
Kader tidak lagi hanya berbekal semangat yang meledak-ledak, tetapi juga pisau analisis yang tajam, kerangka berpikir yang sistematis, dan yang terpenting, kepercayaan diri untuk menyuarakan gagasan di ruang publik. Di sinilah letak peran vital KOHATI pasca-LKK.
Organisasi ini menjadi laboratorium intelektual dan sosial bagi para alumninya. Pengetahuan yang bersifat teoretis dari LKK menemukan ruang aktualisasinya di dalam program-program kerja KOHATI. Diskusi-diskusi yang sebelumnya hanya terjadi di dalam forum LKK, kini bisa diimplementasikan dalam bentuk kajian rutin, seminar, atau bahkan riset kecil yang mengupas isu-isu perempuan di lingkungan kampus dan masyarakat. Misalnya, gagasan tentang kesetaraan diimplementasikan melalui kampanye anti kekerasan seksual di kampus, atau materi kepemimpinan diterjemahkan menjadi program pendampingan bagi mahasiswi untuk berani maju dalam pemilihan ketua lembaga kemahasiswaan.
KOHATI menyediakan panggung bagi para kader untuk menguji gagasan, melatih retorika, dan mempraktikkan kemampuan manajemen organisasi yang telah mereka pelajari. Inilah wujud nyata dari “kegunaan” KOHATI: ia menjadi wadah penyaluran potensi yang telah diasah.Lebih dari itu, KOHATI menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering. Inspirasi ini lahir dari interaksi kolektif antar kader yang memiliki frekuensi pemikiran yang sama pasca-LKK.
Solidaritas atau ukhuwah yang terbangun bukan lagi sebatas pertemanan biasa, melainkan ikatan ideologis. Seorang kader baru yang melihat yunda-yundanya mampu memimpin rapat dengan lugas, menulis opini tajam di media massa, atau mengorganisir sebuah aksi sosial, akan terpacu untuk melakukan hal yang sama. Ia melihat contoh nyata bahwa perempuan bisa menjadi subjek, bukan hanya objek, dalam pergerakan. Ketika seorang kader merasa ragu atau jatuh, ia akan menemukan sistem pendukung yang kuat dari saudari-saudarinya yang siap menguatkan dan mengingatkan kembali akan tujuan perjuangan. Siklus inspirasi ini terus berputar.
Kader yang terinspirasi akan menempa dirinya, lalu gilirannya akan menginspirasi adinda-adindanya. Iklim inilah yang membuat KOHATI tidak menjadi organisasi yang stagnan. Ia terus bergerak dinamis, diisi oleh para perempuan tangguh yang tidak hanya kritis dalam pikiran, tetapi juga solutif dalam tindakan. Mereka adalah bukti bahwa hasil dari LKK tidak menguap begitu saja, melainkan beresonansi kuat dalam setiap gerak langkah organisasi. Kaderisasi berjalan bukan hanya secara formal, tetapi juga melalui keteladanan sehari-hari (uswatun hasanah) yang ditunjukkan oleh para seniornya.Pada akhirnya, sinergi antara tempaan LKK dan wadah aktualisasi di KOHATI adalah kunci. LKK memberikan, kompas, dan peta, sementara KOHATI menyediakan kolam dan medan perjuangannya. Tanpa LKK, KOHATI berisiko menjadi organisasi yang hanya menjalankan rutinitas tanpa ruh ideologis yang kuat. Sebaliknya, tanpa KOHATI, ilmu dan semangat dari LKK akan menjadi menara gading yang tak membumi dan kehilangan relevansinya. Keduanya saling melengkapi, menjadikan KOHATI sebagai organisasi yang tidak hanya berguna bagi pengembangan kapasitas internal kadernya, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi lahirnya calon-calon pemimpin perempuan yang akan berkontribusi secara nyata untuk kemajuan umat dan bangsa Indonesia.




